DALAMI: Ditreskrimum Polda Sumut, Kombes Pol Cornelis Mangarahon Simanjuntak, didampingi Kabid humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, saat memberikan keterangan motif penembakan yang menewaskan Donny Pacek di Mapoldasu. (ist/sadamanews.com)
MEDAN – sadamanews.com – Mobil Toyota Yaris putih yang dikemudikan Donny Pacek menabrak delapan warga dan tiang listrik setelah dirinya ditembak di bagian leher di Jalan Limau Mukur, Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Minggu (18/10/2026) kemarin.
Saat itu, Donny mengalami kejang-kejang akibat luka tembak di bagian lehernya sehingga Indra Wijaya, yang duduk di samping pengemudi, mengambil alih kemudi.
Namun, mobil tersebut melaju dan menabrak sepeda motor yang dikendarai kedua pelaku serta delapan warga lainnya. Mobil baru berhenti setelah menabrak tiang listrik.
“Mobil korban ini lengket pedal gasnya karena terinjak, sehingga menabrak kendaraan kedua pelaku dan delapan orang warga lainnya dan baru berhenti setelah menabrak tiang listrik,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum ( Ditreskrimum) Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Cornelis Mangarahon Simanjuntak pada wartawan, Kamis (22/10/2026) sore.
Polisi menyebut penembakan yang menewaskan Donny Pane selaku Wakil Komandan Komando Inti (Wadan Koti) Pemuda Pancasila (PP) Majelis Perwakilan Cabang (MPC) Kabupaten Deli Serdang yang dilakukan kedua tersangka berinisial DAC (22) dan AAL (20) diduga dilatarbelakangi persaingan antar kelompok organisasi masyarakat (ormas).
“Untuk motivasi dari peristiwa pembunuhan berencana ini adalah persaingan antar dua kelompok ormas,” tambahnya
Polisi juga masih mendalami asal-usul senjata api yang digunakan dalam penembakan tersebut. Cornelis mengatakan, pistol yang ditemukan di pinggir jalan memiliki nomor registrasi, tetapi asal-usulnya masih ditelusuri oleh penyidik.
“Untuk asal-usul senjata api yang digunakan, saat ini masih dalam pendalaman tim penyidik,” terangnya.
Ia menjelaskan, penyidik belum dapat menggali keterangan secara maksimal dari tersangka Dwika Anggara Cipta (DAC) karena yang bersangkutan masih menjalani perawatan.
Menurut Cornelis, penyidik juga menemukan hubungan antara DAC dan Afriandi Anas Limbong (AAL) dengan kelompok yang diduga menyerang rumah Ferry, rekan Donny Pacek, sebelum penembakan terjadi.
Kasus ini bermula pada Minggu (18/10/2026) sekitar pukul 18.00 WIB, ketika terjadi keributan antara kelompok Doni Kiboy dan kelompok Donny Pacek.
Rumah Ferry yang merupakan anggota Pemuda Pancasila diserang sejumlah orang. Setelah kejadian itu, Ferry menghubungi Doni untuk meminta bantuan.
Doni kemudian mengumpulkan sejumlah rekannya dan berangkat menuju rumah Ferry menggunakan Toyota Yaris putih. Dalam perjalanan, sepeda motor Honda Beat yang dikendarai DAC dengan AAL sebagai penumpang mendekati dan memepet mobil tersebut.
Berdasarkan keterangan polisi, DAC sebelumnya telah menyampaikan kepada AAL bahwa senjata api yang dibawanya sudah dikokang dan meminta AAL melakukan penembakan. AAL kemudian mengambil senjata api dari pinggang DAC dan menembak Donny hingga tewas.
Informasi menyebutkan, DAC turut mengalami luka tembak. Luka tersebut diduga terjadi ketika senjata api yang dibawanya terlepas atau meletus dan mengenai bagian punggungnya.
Setelah kejadian, keduanya disebut melarikan diri ke area perkebunan sawit.
Penyidik kemudian melakukan penangkapan terhadap DAC dan AAL di rumah masing-masing tidak lama setelah kejadian. Saat ini, DAC masih menjalani perawatan di rumah sakit. (Sormin)









