PPM Program Studi S3 Kedokteran USU Edukasi Masyarakat Pancur Batu

Senin, 15 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO BERSAMA : Bupati Deli Serdang, dr. Asri Ludin Tambunan M.Ked (PD), Sp.PD-KGEH foto bersama peserta. (ist/sadamanews.com)

PANCUR BATU – sadamanews.com – Kanker kolorektal, yang dikenal sebagai kanker usus dan terjadi di usus besar, rektum, atau usus buntu, merupakan salah satu kanker paling mematikan di dunia.

Penyakit ini banyak ditemukan di negara berkembang, dengan sekitar 60% kasus terdiagnosis sebagai kanker kolorektal yang berakhir pada kematian.

Fakta ini disampaikan oleh dr. Asri Ludin Tambunan M.Ked (PD), Sp.PD-KGEH yang juga menjabat sebagai Bupati Deli Serdang dalam edukasi Kanker Kolorektal kepada masyarakat di RSUD Pancur Batu pada Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Program Studi S3 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Rabu (12/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa kanker kolorektal adalah kanker yang paling sering didiagnosis kedua pada wanita, ketiga pada pria, dan keempat di seluruh dunia. Setiap tahun, lebih dari satu juta kasus baru ditemukan secara global.

Bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional, ia berharap edukasi ini menyadarkan masyarakat dan memahami risiko, gejala, dan pentingnya deteksi dini berbagai penyakit berbahaya.

dr. Asri Ludin Tambunan mengatakan bahwa banyak penderita kanker kolorektal datang terlambat ke fasilitas kesehatan karena takut atau lebih percaya pada pengobatan alternatif. “Banyak orang tidak merasakan gejala pada tahap awal penyakit. Gejala umum meliputi diare, sembelit, darah dalam tinja, sakit perut, penurunan berat badan hingga kelelahan,” ujarnya.

Keterlambatan penanganan dan pengobatan yang tidak optimal sering berujung pada hasil terapi yang kurang baik. “Ini akhirnya memengaruhi kesejahteraan dan kehidupan ekonomi masyarakat karena beban yang ditimbulkan akan semakin besar,” tambahnya.

Sebagai Ketua PPM, ia juga menekankan pentingnya penyebaran edukasi ini secara luas. “Kanker kolorektal dapat dicegah dan dideteksi lebih awal. Kuncinya adalah tidak menunda pemeriksaan,” tegasnya.

Sementara itu, dr. Darmadi memaparkan bahwa asupan daging olahan yang tinggi menjadi salah satu faktor risiko yang memicu kanker kolorektal. “Selain daging, kurangnya konsumsi buah dan sayur, gaya hidup tidak sehat, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol berlebih juga sangat berkontribusi terhadap perkembangan kanker kolorektal,” jelasnya.

Ia berharap masyarakat lebih waspada terhadap gejala yang dialami dan segera melakukan konsultasi kesehatan. “Skrining jadi peran kunci dalam mengendalikan kanker ini. Tes darah okultisme tinja (FOBT), sigmoidoskopi fleksibel (FS), kolonoskopi, dan kolonoskopi virtual (VC) adalah tes skrining utama untuk kanker kolorektal,” pungkasnya.

DI GUNUNG MERIAH
Kegiatan yang juga sudah dilaksanakan di di Jambur Desa Gunung Meriah, Jumat (21/11/2025).

Dalam penyampaian materinya, dr. Asri Ludin Tambunan menjelaskan bahwa kanker kolorektal adalah kanker paling sering didiagnosis kedua pada wanita, ketiga pada pria, dan keempat secara global. “Setiap tahun lebih dari satu juta kasus baru ditemukan di seluruh dunia. Banyak pasien datang terlambat karena takut berobat atau lebih percaya pada metode alternatif,” terangnya.

Sementara itu, dr Frenky J. Manurung, MARS, M.Ked (PD), Sp.PD memaparkan bahwa pola makan tinggi daging olahan merupakan salah satu faktor risiko utama. “Kurangnya konsumsi buah dan sayur, gaya hidup tidak sehat, obesitas, merokok, serta konsumsi alkohol berlebih sangat berkontribusi terhadap perkembangan kanker kolorektal,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kanker kolorektal adalah kanker ketiga paling umum di dunia, mencakup sekitar 10% dari seluruh kasus kanker, dan menjadi penyebab kematian terkait kanker kedua secara global, terutama menyerang masyarakat berusia 50 tahun ke atas.

“Tingkat kewaspadaan harus ditingkatkan. Skrining adalah kunci. Pemeriksaan seperti FOBT, sigmoidoskopi fleksibel, kolonoskopi, hingga kolonoskopi virtual dapat membantu mendeteksi kanker lebih awal,” pungkasnya.

dr Frenky juga menerangkan bahwa dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pasien yang diskrining secara teratur dan setiap tahun memiliki kemungkinan 33% lebih kecil untuk meninggal akibat kanker kolorektal dibandingkan dengan mereka yang tidak diskrining. (sdn/sormin)

Berita Terkait

Pesta Parheheon Ama HKBP Bandar Klippa Gelar Lomba Rohani dan Olahraga
Pengurus TP PKK Deli Serdang Periode 2025-2030 Dilantik, Bupati Tekankan Sinergi hingga Kecamatan
Wabup Lom Lom Suwondo Pimpin Susur Sungai Program Kali Bersih di Tanjung Morawa
27 Peserta Ikuti Seleksi Tambahan Pilkades Deli Serdang 2026
AKP Gokma W. Silitonga, SH MH Jabat Kasat Lantas Polres Sergai
Pemkab Deli Serdang Sediakan Bus Antar-Jemput, Dukung Car Free Day Setiap Rabu
Pemkab Deli Serdang Sampaikan Data dan Penjelasan ke BKN Terkait Laporan ASN
Kapolsek Binjai Utara Jabat Wakapolres Padang Sidempuan

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 21:51 WIB

Pesta Parheheon Ama HKBP Bandar Klippa Gelar Lomba Rohani dan Olahraga

Sabtu, 18 April 2026 - 00:51 WIB

Wabup Lom Lom Suwondo Pimpin Susur Sungai Program Kali Bersih di Tanjung Morawa

Jumat, 17 April 2026 - 10:02 WIB

27 Peserta Ikuti Seleksi Tambahan Pilkades Deli Serdang 2026

Jumat, 17 April 2026 - 09:57 WIB

AKP Gokma W. Silitonga, SH MH Jabat Kasat Lantas Polres Sergai

Jumat, 17 April 2026 - 09:46 WIB

Pemkab Deli Serdang Sediakan Bus Antar-Jemput, Dukung Car Free Day Setiap Rabu

Berita Terbaru

Berita

Pria di Deli Serdang Bakar Rumah Ibunya

Sabtu, 18 Apr 2026 - 19:50 WIB

OLAHRAGA

PSMS Medan Harus Menang Atas Sriwijaya FC

Sabtu, 18 Apr 2026 - 14:03 WIB