Praktisi Hukum: Tidak Boleh Main Hakim Sendiri

Minggu, 8 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Praktisi hukum Gelmok Samosir SH, MH. (ist/sadamanews.com)

MEDAN – sadamanews.com – Gelmok Samosir SH, MH yang merupakan seorang Advokat sekaligus praktisi hukum buka suara soal viral kasus pencurian berbuntut penganiayaan di Pancur Batu, Deli Serdang.

Gelmok menilai perkara hukum yang menjerat Gleen Dito Oppusunggu dan Rizki Kristian Tarigan tidak bisa dipahami secara hitam-putih hanya dengan logika “mencuri maka pantas dihukum”.

Menurutnya, meski pencurian merupakan tindak pidana yang tidak dapat dibenarkan dalam negara hukum, proses penegakan hukum tetap harus mempertimbangkan konteks niat, motif, serta latar belakang sosial-ekonomi para terdakwa.

“Sejak awal saya tegaskan, pencurian tetap salah dan putusan pengadilan berdasarkan Pasal 363 KUHP harus dihormati. Namun hukum pidana modern tidak boleh melepaskan perbuatan pidana dari konteks mengapa pelanggaran itu terjadi,” ujar Gelmok Samosir dalam keterangannya, Minggu (8/2/2026).

Gelmok menyoroti fakta bahwa kedua terdakwa disebut telah bekerja selama dua minggu tanpa menerima upah sebagaimana dijanjikan. Meski hal tersebut tidak dapat menjadi alasan pembenaran pencurian, kondisi itu dinilainya sebagai faktor kriminogen yang patut dicatat secara yuridis.

“Hukum yang berkeadilan tidak hanya bertanya apa yang dilanggar, tetapi juga mengapa pelanggaran itu terjadi,” tegasnya.

Gelmok menyebut hubungan kerja yang dijanjikan mulai dari sistem upah berbasis jasa, pembayaran mingguan, hingga pemenuhan kebutuhan dasar, patut didalami karena berpotensi melanggar prinsip dasar hubungan kerja yang adil.

Menurutnya, kegagalan menyelesaikan sengketa secara perdata atau ketenagakerjaan kerap berujung pada kriminalisasi pihak yang secara sosial-ekonomi lebih lemah.

“Ini pelajaran penting. Ketidakadilan dalam hubungan kerja sering kali menjadi pintu masuk kriminalisasi orang miskin,” jelasnya.

Gelmok juga menegaskan sikap keras terhadap tindakan penganiayaan yang terjadi dalam rangkaian peristiwa tersebut.

Ia menilai penganiayaan yang dilakukan secara bersama-sama, disertai pengikatan, pelakban, dan penyeretan korban merupakan tindak pidana serius.

“Tidak ada ruang bagi main hakim sendiri. Tidak ada justifikasi kekerasan atas nama mengambil kembali barang, dan tidak ada toleransi terhadap perampasan kemerdekaan seseorang di luar proses hukum,” ujarnya.

Ia menegaskan dua prinsip utama: pencurian tidak pernah membenarkan penganiayaan, dan korban pencurian tidak otomatis berhak melakukan kekerasan. Prinsip tersebut, kata dia, sejalan dengan Pasal 1 ayat (3) dan Pasal 28G UUD 1945 yang menegaskan Indonesia sebagai negara hukum serta menjamin perlindungan atas martabat manusia.

Gelmok juga mengapresiasi sikap Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak yang menegaskan bahwa perkara pencurian, penadahan, dan penganiayaan merupakan tindak pidana yang berdiri sendiri dan harus diproses secara terpisah.

“Langkah ini penting untuk menjaga prinsip due process of law dan mencegah pembenaran kekerasan atas nama emosi sesaat atau moralitas publik,” katanya.

Gelmok menyebut kasus ini sebagai cermin realitas sosial, di mana dua pemuda dari kampung datang ke kota untuk bekerja, namun berhadapan dengan janji kerja yang tidak ditepati dan tekanan ekonomi, hingga akhirnya terseret ke pusaran pidana.

“Mereka salah dan telah dihukum. Namun hukum yang beradab tidak berhenti pada penghukuman, melainkan juga melakukan refleksi sosial agar peristiwa serupa tidak terulang,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa penegakan hukum harus berjalan beriringan dengan keadilan substantif.

“Hukum harus ditegakkan, kekerasan harus dihukum, dan keadilan harus melihat manusia, bukan hanya pasal. Jika hukum hanya keras kepada yang lemah namun lunak terhadap pelanggaran yang lebih dulu terjadi, maka yang runtuh bukan ketertiban, melainkan keadilan itu sendiri,” pungkas Gelmok Samosir. (Sormin)

Berita Terkait

Polrestabes Medan Gerebek Lapak Judi Tembak Ikan di Medan Tuntungan
Wanita Pencuri Tas Berisi Uang dan Perhiasan Ditangkap Polsek Sunggal
Polsek Medan Kota Bakar Barak Narkoba di Jalan Brigjen Katamso
BNNP Sumut Amankan Terduga Pengedar Sabu dari Marelan
Hanya Satu Jam, Pembawa Lari Betor Ditangkap Polsek Sunggal
Maling Sepeda Motor Didor Polisi
Polsek Sunggal Tangkap Pencuri Uang, BPKB dan HP
Maling Buah Sawit Diringkus Polsek Sunggal

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:07 WIB

Polrestabes Medan Gerebek Lapak Judi Tembak Ikan di Medan Tuntungan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 20:42 WIB

Wanita Pencuri Tas Berisi Uang dan Perhiasan Ditangkap Polsek Sunggal

Rabu, 21 Oktober 2026 - 09:30 WIB

Polsek Medan Kota Bakar Barak Narkoba di Jalan Brigjen Katamso

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:51 WIB

BNNP Sumut Amankan Terduga Pengedar Sabu dari Marelan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:39 WIB

Hanya Satu Jam, Pembawa Lari Betor Ditangkap Polsek Sunggal

Berita Terbaru